Usai sholat jam’ah maghrib di Masjid Atiq (Masjid Pusaka) seperti biasanya ayahanda KH. Abdullah Syukri selalu memberikan taushiyah dihadapan para asatidz sebagai upaya untuk mentransfer nilai-nilai ubudiyah dan kepondok modernan.Sebagaimana yang pernah saya alami selama dua tahun berkhidmah (mengabdi) di Gontor.Ada hal yang menarik bila kita mau mencermati setiap selesai mengikuti taushiyah beliau, apa itu ? sebelum mengakhiri taushiyahnya dengan salam beliau tidak pernah terlewat untuk mendoakan para asatidz yang hadir ketika itu dengan sepenggal kata“ Semoga Kalian menjadi orang yang ‘alim, sholeh dan nafi”.
Cukup pendek memang ,tapi kalau kita mau mengkaji secara lebih dalam makna tiga kalimat diatas adalah sebuah do’a dan harapan yang amat luas penjabarannya. Sebagai seorang Pengasuh sekaligus pimpinan pondok sangatlah wajar kalau beliau berharap bila kelak para santrinya keluar dari Gontor menjadi alumni dan terjun ke masyarakat bisa menjadi teladan bagi masyarakat dimana tempat ia berjuang.
Harapan pertama agar menjadi seorang ‘Alim sangatlah rasional, apalagi Gontor merupakan salah satu lembaga pendidikan islam yang mengemban misi mencetak kader-kader ulama calon pemimpin umat. Dalam konteks kekinian , ulama yang dilahirkan Gontor bukanlah sekedar ulama yang menguasai ilmu-ilmu agama dengan pengertian yang sempit. Sebab problem dan tantangan yang dihadapi oleh umat saat ini sudah sangat kompleks yang memerlukan penanganan dengan menggunakan pendekatan yang beragam. Problem-problem yang komplek tersebut tidak bisa hanya dihadapi dengan pendekatan doktrinal-teologis berdasarkan buku-buku dasar keagamaan yang diajarkan di Gontor. Diperlukan pendekatan lain untuk melengkapi ketimpangan ini, yaitu pendekatan kultural-sosiologis. Untuk itu, diperlukan adanya integrasi antara kedua pendekatan tesebut untuk memperoleh penyelesaian yang lebih komprehensif. Di sini barangkali letak relevannya misi gontor yang hendak melahirkan “Uama yang intelek.” Yakni sosok yang menguasai ajaran dan doktrin agama dan memahami ilmu-ilmu sosio-budaya.
Tentunya bekal ilmu yang didapatkan dari Gontor saja tidak cukup untuk bisa menyandang gelar ‘Alim yang mampu memecahkan segala problematika.Sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Almarhum KH. Imam Zarkasyi bahwa: ” apa yang diajarkan di gontor hanyalah sebuah kunci ilmu “.Sejalan dengan motto Pondok Modern berpengetahuan luas, maka seorang alumni dituntut untuk bisa menggunakan kunci tersebut untuk membuka gudang ilmu serta mendapatkan segala ilmu di dalamnya dengan sebanyak-banyaknya, sehinggga menjadi orang alim dengan sebenar-benarnya.
Menjadi orang ‘alim saja pun ternyata tidak cukup, sebagaimana dalam lanjutan do’a beliau agar kelak para alumninya bisa menjadi orang sholeh yang selalu menjaga akhlaqul karimah dalam kehidupan beribadah, bermu’amalah dengan Allah maupun dengan sesama manusia, karena dalam realita kehidupan masih banyak dijumpai sosok orang yang memiliki banyak ilmu pengetahuan tetapi lupa akan kewajiban terhadap Tuhannya, bahkan secara egois dan angkuh merasa bahwa ilmu yang didapatkannya semata-mata atas kecerdasan otak yang dimilikinya.Hati dan pikirannya tertutup untuk menerima hidayah Allah karena sikap angkuhnya, tak terbatas sampai disitu, dalam berperilaku di hadapan manusia justru mereka lebih rendah dari orang-orang yang minim ilmu pengetahuan.Ajaran-ajaran Allah tidak lagi diindahkannya, bahkan cukup banyak dari mereka memanfaatkan ilmunya untuk kepentingan-kepentingan duniawi saja.Ironisnya kecintaan terhadap kehidupan duniawi yang hanya sementara menjadikan Ia lalai terhadap Tuhannya . Padahal , semakin banyak ilmu yang ia miliki seharusnya Ia akan semakin dekat dengan Tuhannya bukan malah sebaliknya.
Selain mengharapkan alumninya agar menjadi orang alim dan sholeh ,masih ada harapan beliau dalam penggalan do’a yang terakhir yaitu menjadi orang yang Nafi’( bermanfaat), harapan ini tentunya amat sesuai dengan sebuah hadis Rosululullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim “ Khoirunnas ‘anfauuhum linnas “. Semakin banyak ilmu yang dimiliki tentunya diharapkan bisa bermanfa’at dan diamalkan dengan baik, manfaatnyapun tidak sekedar dirasakan oleh dirinya sendiri tetapi bisa dirasakan oleh orang lain di sekitarnya.Tanpa harus berambisi untuk selalu ingin dikenal sebagai orang yang besar dengan kelebihan ilmu yang dimiliki, bukankah ukuran orang besar menurut Almarhum KH Imam Zarkasyi adalah “orang yang mau mengajar (mengamalkan ilmunya) meski di sebuah surau kecil dan di desa yang terpencil sekalipun”. Maka dimanapun kita berjuang , mengamalkan ilmu selalu menjadi kewajiban bagi kita senada dengan mahfudzot yang pernah kita pelajari di kelas dulu “ Al ‘ilmu bila ‘amalin ka syajarin bila tsamarin”.
Menjadi apapun di tengah masyarakat nanti, gontor tidak pernah mengekang alumninya untuk berorientasi kepada satu tujuan, menjadi ulama pimpinan pesantren, pengusaha, pegawai negri, cendekiawan, wiraswasta , atau petani sekalipun.Semuanya memiliki kebebasan untuk menentukan tujuan dan cita-citanya masing-masing.Setidaknya pendidikan dan pengajaran yang telah didapatkan di gontor bisa menjadi bekal yang mengantarkan mereka kepada tujuannya. Sebagaimana dalam pesan tertulisnya KH Abdullah Syukri Zarkasyi menyatakan “ Sudah cukup pendidikan yang kita berikan, latihan yang telah kita latihkan, pengalaman yang telah dialami, namun tergantung juga daya serapmu terhadap sentuhan-sentuhan pondok yang telah disentuhkan kepadamu lahir dan batin, akademis ataupun non akademis, apapun wujudmu dan apapun keterbatasanmu, jadilah orang yang berguna untuk dirimu, keluargamu, masyarakatmu, sebanyak mungkin dan seluas mungkin”.
Ketiga kata ( Alim, sholeh, nafi’) yang telah dijabarkan diatas telah cukup dan bisa saling melengkapi satu sama lain dalam merealisasikan harapan KH.Abdullah Syukri Zarkasyi sebagai seorang pengasuh terhadap para alumninya, namun tidak dipungkiri masih ada lagi kriteria lain yang lebih bisa melengkapi itu semuanya.Tugas kita sekarang hendaknya tidak pernah berhenti untuk berbuat, berfikir dan bekerja semaksimal mungkin, menuju kesempurnaan manusiawi yang lebih bertaqwa.Amin Ya Robbal ‘Alamin.
